Nama            :   Nindya Khoirunisa

NRP               :   G74100051

Laskar         :   25

Dalam Sebuah Kertas

Tepatnya di penghujung SMA film itu diputar. Sebuah film dokumenter berisi perjalanan kesuksesan seorang pemuda yang membuat hati ini tergugah. Tergugah untuk mengikuti jejaknya. Jejak sang pembuat film, Danang A.Prabowo, yang merupakan salah satu mahasiswa di Institut Pertanian Bogor. Keberhasilannya meraih prestasi membuat jantung berdegup cukup kencang. Ia meyakinkan saya bahwa jalan hidup ini bisa sesuai dengan keinginan asal ada kemauan keras, semangat tinggi, do’a, restu dari orang tua dan selembar kertas. Ya, selembar kertas berisi sederet mimpi kita dimana benda itu nantinya akan menjadi penunjuk kegiatan esok hari, lusa dan seterusnya.

Saya seorang perempuan yang mempunyai banyak kelemahan tetapi tetap ingin menjadi sosok luar biasa di mata orang tua, bak mutiara yang bersinar terang di tengah laut lepas. Dulu tak pernah terpikir bahwa impian-impian yang begitu tinggi bisa diwujudkan. Menjalani hidup  biasa layaknya orang lain saja sudah syukur alhamdulillah. Tetapi setelah melihat film dokumenter tersebut, saya tahu bahwa impian dan angan-angan itu berbeda. Angan-angan hanya untuk dibayangkan dan dinikmati kesenangannya dalam otak, dalam dunia khayal. Sedangkan mimpi adalah sesuatu yang harus diraih. Sesuatu yang harus diusahakan agar menjadi nyata. Di dalam film, Kak Danang menyebutkan salah satu target yang ia tulis di selembar kertas miliknya adalah pergi ke luar negeri. Dan kemudian ia berhasil mencapai targetnya itu melalui besiswa sekolah ke negeri sakura. Itu pula yang menjadi salah satu keinginan saya. Berhasil mencicipi rasanya menuntut ilmu di Jerman, Jepang atau Korea.

Sekarang seratus target selesai saya tulis di dalam sebuah buku catatan kecil. Tiga diantaranya sudah berhasil direalisasikan. Semoga diri ini mampu menjadi pribadi yang sukses dengan agama, moral, intelektualitas juga profesionalitas sebagai landasannya. Dan semua yang telah tertulis dapat menjadi jejak kehidupan saya kelak, seperti seratus target milik Kak Danang yang kini hanya coretan perjalanannya semata. Yang lebih menambah semangat lagi adanya artikel mengenai sebuah penelitian di luar negeri membuktikan bahwa remaja yang menuliskan target-target hidupnya mempunyai penghasilan dua kali lebih besar dibandingkan remaja yang hanya menyimpan cita-citanya dalam otak. Karena manusia tak luput dari lupa (otak hanya dapat menampung memori terbatas), mari kita mulai menuliskan apa-apa saja yang ingin kita raih dan dapat mengubah hidup menjadi lebih menakjubkan. Sertakan juga tekad kuat untuk mewujudkannya.

Cerita ini saya dapat dari seorang teman yang sangat menginspirasi.

Kekuatan dari Hati

Saya seorang perempuan. Terlihat lemah pada fisik, tetapi tidak pada hati dan kemauan. Meski berasal dari keluarga tidak mampu, tak pernah sedikitpun merasa malu. Karena kerendahan diri bukan untuk dipelihara. Malu hanya akan membawa hidup pada kebuntuan. Sehari-harinya ibu bekerja menjual sayur dan pecel. Sedangkan kakak bekerja sebagai seorang guru TK. Untuk membantu perekonomian keluarga, setiap hari saya menjual makanan ringan ke sekolah. Bersyukur tak sedikit yang sudah menjadi langganan. Karena menurut teman-teman rasanya enak.

Dengan berdagang itu, ibu mempunyai banyak kenalan. Sehingga pernah suatu hari saya ditawari untuk menjadi guru privat pada tiga orang anak teman ibu. Anak-anak ini masih duduk di bangku SMP. Dengan bermodal ilmu pekerjaan ini dijalani dengan mudah dan senang hati. Uang yang diterima pun juga lumayan. Tetapi, tidak lama profesi ini harus ditinggalkan. Alhamdulillah ada saudara yang ingin membiayai saya les bahasa inggris. Les ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas saat masuk dunia perkuliahan dan bekerja nanti. Otomatis waktu untuk mengajari anak-anak tetangga harus dikorbankan. Kesempatan untuk bisa berbahasa inggris dengan baik tak akan disia-siakan karena telah mengorbankan penghasilan sebagai guru privat tersebut.

Untuk bayaran sekolah, ada keringanan bagi keluarga kurang mampu setiap bulannya. Itu sedikit melegakan hati. Tak pernah sedikitpun diri ini ingin mengecewakan ibu. Di sekolah, peringkat tiga besar harus bisa diraih. Hanya untuk beliau saya berjuang dalam pendidikan. Berharap ilmu dapat merubah kehidupan keluarga kami menjadi lebih baik suatu saat nanti. Dengan kehidupan seperti ini, saya terbiasa untuk selalu berhemat. Menjadikan pengeluaran sekecil mungkin. Tak pernah membelanjakan uang untuk barang-barang yang tidak sedang mendesak dibutuhkan. Kepercayaan diri tinggi menjadi modal utama dalam meraih prestasi. Semangat ini tak akan luntur sebelum cita-cita tercapai. Ibu, dialah yang menginspirasi untuk menjadi sosok yang pantang menyerah. Bukan tokoh terkenal atau ilmuwan-ilmuwan dari luar negeri. Tapi ibulah yang membuat hati tergerak untuk jadi anak yang membanggakan. Untuk jadi wanita kuat seperti dirinya, yang sudah mampu menghidupi dua orang anaknya ini seorang diri selama 5 tahun. Hanya beliau harta berharga yang saya miliki di dunia ini. Tak pernah pula saya sesali keputusan Allah untuk membawa ayah lebih cepat menghadap-Nya. Ini pasti bentuk kasih sayang Allah dalam melatih kemandirian keluarga kami. Read the rest of this entry »